GLOBAL

Agama Muslim Singapura Halalkan Daging Hasil Laboratorium

Loading

Agama Muslim Singapura Halalkan Daging Hasil Laboratorium

Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) telah menghalalkan konsumsi daging yang dikembangkan di
laboratorium (lab-grown meat).
Umat islam diperbolehkan mengkonsumsinya selama memenuhi semua persyaratan.

“Pedoman agama untuk konsumsi produk daging budidaya dibuat menyusul pertanyaan tentang penerimaannya di kalangan umat Islam setelah Otoritas Makanan Singapura (SFA) menyetujui penjualan produk daging budidaya pada tahun 2020,” kata MUIS, Senin (5/2/2024).

MUIS menyatakan bahwa daging hasil budidaya dapat dikatakan halal jika selnya berasal dari hewan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh umat Islam dan tidak ada campuran bahan yang tidak halal pada saat proses pembuatannya.

Menurut MUIS, daging hasil laboratorium merupakan sumber daging alternatif yang dihasilkan melalui pengolahan langsung sel hewan, Produk ini dikatakan lebih ramah lingkungan.

“Makanan baru yang dapat diproduksi dengan cara yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pertanian konvensional dan budidaya perairan menawarkan cara praktis untuk berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan,” kata MUIS.

Dalam mengeluarkan fatwa ini, Komite Fatwa Singapura, dengan dukungan Sekretariat Mufti, melakukan penelitian terhadap pangan baru dan daging budidaya serta berkonsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk SFA, pemangku kepentingan industri, dan akademisi.
Saya juga menyaksikan langsung proses budidayanya.

Ia menambahkan, fatwa daging budidaya didasarkan pada prinsip Islam untuk melindungi kehidupan manusia dan menjaga lingkungan.
“Fatwa ini juga memperhatikan prinsip hukum Islam bahwa segala sesuatu yang bermanfaat diperbolehkan sampai terbukti sebaliknya,” ujarnya.

Mengembangkan Pedoman Sertifikasi Halal

Setelah menghalalkan konsumsi daging hasil laboratorium, MUIS juga akan menerbitkan pedoman sertifikasi halal daging hasil budidaya.
Dia mengatakan pedoman tersebut akan dikembangkan bekerja sama dengan lembaga pemerintah terkait seperti SFA dan pemangku kepentingan industri.

Masyarakat Muslim Singapura akan bebas memilih apakah akan mengonsumsi daging hasil laboratorium setelah menerima sertifikat halal, kata MUIS.
“Bagaimanapun, konsumen Muslim memutuskan sendiri apakah akan mengunjungi restoran bersertifikat halal atau mengonsumsi makanan bersertifikat halal,” ujarnya.

“Demikian pula, umat Islam di Singapura dapat memilih apakah akan memakan daging hasil budidaya atau tidak jika sudah bersertifikat Halal,” tambahnya.

Daging Rekayasa Genetika di Indonesia

Indonesia sendiri sudah melegalkan daging hasil rekayasa genetika.
Hal ini tertuang dalam Fatwa DPR RI (MUI) Nomor 35 Tahun 2013 tentang Rekayasa Genetika dan Produknya.

Fatwa ini menyatakan bahwa hewan hasil rekayasa genetika adalah halal sepanjang dagingnya termasuk dalam kategori hewan yang halal untuk dikonsumsi (ma’kul al-lahm) dan termasuk dalam kategori hewan yang bermanfaat dan tidak membahayakan.

Baca Juga : Istana Buckingham Umumkan Raja Charles III Mengidap Kanker

 

zvr
Bagaimana Reaksimu ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.